Jumat, 08 April 2011

Isu Gempa Besar, Momen untuk Menjaga Kelestarian Alam di Pagaralam

Pernyataan Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Andi Arief tentang akan adanya gempa besar di sekitar Pagaralam, Sumatera Selatan, merupakan momen penting bagi pemerintah dan masyarakat Pagaralam. Pemerintah daerah dan masyarakat harus sadar pentingnya menjaga kondisi alam di sekitar Gunung Dempo.

“Terlepas nantinya bencana itu terjadi atau tidak, tapi informasi tersebut memberikan kita kesadaran atas kondisi alam di Pagaralam,” ujar seorang pendaki Gunung Dempo, Anhar di Palembang, Jumat (08/04/2011) malam.

Dijelaskan Anhar, selama beberapa tahun terakhir, hutan di lereng Gunung Dempo mulai habis karena pembabatan hutan. Hutan kini telah menjadi pemukiman dan perkebunan.

“Tidak ada lagi hutan dengan tumbuhan tua, saat ini sebagian menjadi wilayah pemukiman dan perkebunan. Apabila terjadi gempa vulkanik, saya pikir lahar yang keluar akan begitu cepat sampai ke kota Pagaralam atau daerah lain di sekitarnya, sebab sudah tidak ada lagi penghalangnya,” kata Anhar.

Oleh karena itu, kata Anhar, sudah saatnya pemerintah maupun masyarakat di Pagaralam tidak lagi menebangi hutan di lereng Gunung Dempo untuk pemukiman, perkantoran, dan perkebunan.

“Sebagai gunung berapi yang aktif, seharusnya semua pihak waspada sehingga setiap pembangunan lebih baik difokuskan pada daerah yang jauh dari lereng Gunung Dempo,” ujarnya.

Artinya, pemerintah Pagaralam setiap kebijakannya harus menimbang soal keselamatan dari dampak bencana alam. “Bisa saja prediksi itu bukan besok atau lusa terjadi, mungkin lima tahun lagi, tapi apakah itu berarti korban dapat dihindarkan apabila tidak ada antisipasi dari sekarang? Kan tidak, keselamatan tetap harus dilakukan sejak dini,” ujar Anhar, seorang aktifis sebuah kelompok pendaki gunung dari Universitas Sriwijaya ini.

Anhar sendiri berharap, prediksi adanya gempa besar di Pagaralam atau di sekitar Gunung Dempo, tidak terjadi. Meski demikian masyarakat dan pemerintah diminta tetap waspada.Sumber : detiknews.com

Kamis, 07 April 2011

Gempa di Jepang

Gempa 7,4 SR di Jepang berpusat di lepas pantai Miyagi. Di Tokyo yang berada 400 Km dari Miyagi, gempa ini juga terasa cukup keras.

"Iya di Tokyo kerasa," ujar seorang WNI di Jepang, Syeilendra Pramuditya kepada detikcom, Jumat (8/4/2011) dini hari.

Syeilendra menjelaskan saat terjadi gempa, dirinya sedang berada di Kampusnya di Tokyo Tech. Kursi dan meja bergetar akibat gempa ini.

"Saya di Meguro-ku, barusan pas lagi gempa lagi di kampus, lantai 4, cuma bentar sih kayaknya kurang dari semenit. Cuma lumayan meja dan ceiling sampai bergetar," katanya.

Sebelumnya gempa 7,4 SR mengguncang Jepang pukul 23.32 waktu setempat, atau sekitar pukul 21.32 WIB, Kamis (7/4). Awalnya BMKG Jepang mengeluarkan peringatan tsunami.

Namun akhirnya peringatan tsunami ini dicabut pukul 00.55 waktu setempat, atau pukul 22.55 WIB. Daerah prefektur Miyagi, Aomori, Iwate, Fukushima dan Ibaraki pun dinyatakan aman. Sumber: detik.com

Bencana Gempa Bumi di Cilacap 7,1 SR

Gempa bermagnitud 7,1 yang mengguncang Cilacap dinihari tadi pukul 3.06 WIB diduga akibat proses relaksasi yang diikuti post seismik deformasi gempa sebelumnya. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan namun akhirnya dicabut oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) pada pukul 4.40 WIB.
Pengamat gempa ITB Irwan Meilano mengatakan bahwa gempa yang terjadi di Cilacap berkaitan dengan gempa Pangandaran tahun 2006. Gempa Cilacap terjadi di lokasi yang sangat dekat dengan gempa Pangandaran tersebut.
"Gempa ini terjadi pada bagian atas gempa susulan akibat proses relaksasi yang diikuti post seismik deformasi gempa 2006, yang berdasarkan data masih terjadi hingga saat ini," katanya.
Gempa Cilacap diketahui terjadi akibat mekanisme normal atau sesar turun. Deformasi terjadi pada patahan seluas seluas 50 km x 25 km. Akibat gempa, diketahui terjadi pergeseran sebesar 1,5 meter.
Gempa Cilacap terjadi di dalam lempeng (interplate) Eurasia, bukan pada bidang kontak lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Karenanya, meski berkaitan gempa Cilacap ini berbeda dengan gempa Pangandaran.
Irwan mengungkapkan, dalam beberapa kasus gempa interplate memiliki potensi tsunami. Tapi, ia menjelaskan bahwa terjadi atau tidaknya tsunami tergantung pada mekanisme gempa dan magnitud gempanya.
"Kalau sesar naik itu efektifitas terjadinya tsunami lebih tinggi daripada sesar turun. Tapi walaupun sesar turun kalau magnitudnya besar dan bergesernya banyak, bisa juga terjadi tsunami," jelasnya.
Hingga saat ini belum dilaporkan data kerusakan akibat gempa. Getaran gempa yang terjadi dinihari tadi sempat membuat masyarakat panik dan mengungsi. Satu orang dilaporkan tewas di pengungsian akibat terkejut dengan adanya gempa.
Sumber : sains.kompas.com